Помощь в получении кредита. Жми сюда!

Реклама

Свежие комментарии

Нет комментариев для просмотра.

Kematian Gajah Tanpa Gading Pertanda Eksplorasi Satwa Masih Tinggi

Kematian Gajah Tanpa Gading Pertanda Eksplorasi Satwa Masih Tinggi

Satwa liar gajah di Indonesia diketemukan lagi mati tanpa gading. Periset sekalian aktivis lingkungan, Rheza Maulana menjelaskan, salah satunya faktor pemicu peristiwa itu ialah masih tingginya kesenangan eksplorasi satwa liar untuk sedikit orang.Akhir-akhir ini, kematian gajah dengan keadaan tanpa gading terus terjadi. Contohnya, pada minggu kemarin satu ekor gajah sumatra mati di tempat perkebunan di daerah Kabupaten Aceh Utara, Minggu (24/3). Berdasar sangkaan yang terdapat, gajah itu menyengaja dibunuh dan gading gajah juga diambil.Hal sama terjadi pada Gajah Rahman yang mati pada Januari 2024 lantas di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau dengan keadaan gading yang lenyap. Gajah itu diperhitungkan mati karena dibunuh racun.

Rheza memandang ini adalah musibah besar untuk pelestarian satwa liar di Indonesia dan perlu jadi perhatian seluruh pihak, baik pemerintahan, instansi pelestarian, dan warga.”Sebesar apa pun itu pemerintahan berusaha, tetapi jika ketertarikan mengeksplorasi satwanya semakin tinggi, terus akan kesusahan. Karena itu, konsentrasinya tidak cuma menambahkan https://nicenailsspa.com/ usaha pemantauan satwa, tetapi juga turunkan eksplorasi satwa itu sendiri,” kata Rheza ke Greeners melalui info tercatat, Kamis (28/3).Dia menambah, seluruh pihak perlu mengganti pola berpikir tidak untuk menyaksikan satwa liar dan sisi badannya sebagai komoditas eksklusif dan lambang status. Selanjutnya, kira satwa liar sebagai elemen alam yang perlu dijaga di alam, bukan dipunyai.

Keinginan Sisi Badan Satwa Liar Masih Tinggi

Dalam pada itu, pemburuan satwa saat ini tetap jadi berlanjut. Tetapi, lanjut Rheza, perlu pikirkan tipe dan nilainya. Contohnya, warga lokal yang masuk rimba memburu satwa, seperti babi rimba atau memancing ikan di sungai cuma untuk penuhi keperluan pangan. Karena, mereka terimbas kemiskinan.”Bisa jadi karena mereka tidak memahami hukum, mungkin memburu di daerah yang jangan memburu. Karena karakternya perseorangan pasti perlengkapan memburu seadanya, dan yang mereka buru tipe dan jumlahnya terbatas,” tambah Rheza.Tetapi, berlainan hal bila pemburuan satwa liar seperti gajah yang termasuk satwa liar diproteksi. Apalagi, gading gajahnya mereka mengambil, sedangkan bangkainya mereka tinggal sampai membusuk. Maknanya, mereka memang membidik gading sebagai komoditas eksklusif. Dengan begitu, pemburuan satwa liar masih ramai.”Mengapa tetap terjadi? Kemungkinan karena permohonannya masih tetap ada. Masih tetap ada beberapa pihak yang untung dari perdagangan anggota badan satwa liar seperti gading gajah. Masih tetap ada pedagangnya, dan masih tetap ada pembelinya . Maka, sepanjang keinginan ini masih tetap ada, ya, pemburuan terus akan ada pula,” tegas Rheza.

Perlu Tingkatkan Penegakan Hukum

Menurut Rheza, perlu tingkatkan usaha saat membuat perlindungan satwa liar, penegakan hukum, dan menghambat pemburuan dengan kerahkan jagawana, polisi rimba, dan unit perlindungan. Lantas, seumpama terjadi pemburuan, perlu lacak habis dan memberikan dampak kapok.”Maksudnya supaya yang akan datang beberapa pemburu tidak berani ngotot memburu kembali, dan kolektor anggota badan satwa liar pun tidak ngotot memiliki,” kata Rheza.

Оставить комментарий