Помощь в получении кредита. Жми сюда!

Реклама

Свежие комментарии

Нет комментариев для просмотра.

BUKA PEKAN BUDAYA BARAPE’ SAWA’ 2024

Pelaksanaan Calendar Of Event Kalimantan Barat Tahun 2024 Pekan Budaya Barape’ Sawa’ Kabupaten Bengkayang ke-9 Tahun 2024 yang di buka secara resmi oleh Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat Ibu Windy Prihastari, S.STP, M.Si yang sekaligus Ketua Tim Pengerak PKK Provinsi Kalimantan Barat yang didampingi juga oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis, S.E.,M.M di Rumah Adat Ramin Bantang Bengkayang pada Senin (27/05/2024).

Hadir dalam Pelaksanaan Pekan Budaya Barape Sawa Kabupaten Bengkayang ke-9 Tahun 2024 ini yaitu Anggota DPR dan DPD RI Dapil Kalimantan Barat; Forkopimda Provinsi Kalimantan Barat; Ketua dan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat; Walikota Singkawang, Bupati Sambas, Bupati Landak, Bupati Mempawah atau yang mewakili; Presiden Majelis Adat Dayak Nasional atau yang diwakili Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional; Ketua DAD Provinsi Kalimantan Barat; Forkopimda Kabupaten Bengkayang; Ketua DPRD serta Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang; Ketua Tim Pengerak PKK Kabupaten Bengkayang; Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Bengkayang; Ketua DAD Kabupaten Bengkayang; Ketua DAD Kota Singkawang; Ketua DAD Kabupaten Landak; Ketua DAD Kabupaten Mempawah; Ketua DAD Kabupaten Sambas; Ketua DAD Kecamatan se-Kabupaten Bengkayang; Kepala Benua se-Kabupaten Bengkayang; Camat se-Kabupaten Bengakayang; Pemuka Adat, Pemuka Agama, Tokoh Masyarakat dan lapisan masyarakat Kabupaten Bengkayang yang memadati Ramin Bantang.

Tradisi Bapare’ Sawa’ merupakan tradisi sub suku Dayak Bakati’ sebagai sub suku Dayak paling besar di Kabupaten Bengkayang yang multietnis dan multikultural. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan (Jabata) yang telah memberikan hasil panen pada musim tanam sebelumnya sekaligus juga menandai akan dimulainya musim tanam (Berladang) yang baru dengan kata lain Barape’ Sawa’ adalah tradisi buka dan tutup tahun musim tanam bagi masyarakat adat Dayak Bakati’ di Kabupaten Bengkayang. Dan tradisi ini telah menjadi agenda rutin tahunan DAD Kabupaten Bengkayang bersama Pemerintah Kabupaten Bengkayang serta telah terdaftar dalam kalender Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Bengkayang.

Dalam Sambutan Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat Ibu Windy Prihastari, S.STP, M.Si menyampaikan “Saya berharap kita semua secara bersama-sama terus mendukung pengembangan pariwisata di Kabupaten Bengkayang baik melalui pengembangan desa wisata maupun melalui event wisata budaya. Selain menjadi daya tarik bagi wisatawan, perkembangan wisata di daerah perbatasan juga membantu menggerakkan perekonomian daerah serta berperan dalam mempersatukan kebudayaan yang beragam”.

Sedangkan dalam sambutan Sebastianus Darwis, S.E.,M.M Bupati Bengkayang menyampaikan, “Saya bersama Pemerintah Kabupaten Bengkayang menyambut baik serta mengapresiasi penuh event-event budaya seperti ini, yang menunjukan sekaligus membuktikan bahwa kita khususnya masyarakat adat Dayak Bakati’ masih terus berupaya menjalankan cukongbet sertaenjaga tradisi dan adat istiadat yang ada agar terus terpelihara serta tidak tergerus oleh perkembangan zaman, moderenisasi bukanlah penghalang, namunkita jadikan sarana dalam kreasi dan kelestarian budaya leluhur kita”. Ucap Bupati Bengkayang

Bupati Bengkayang juga menambahkan Pemerintah Kabupaten Bengkayang dalam kegiatan ini memberikan hibah dana sebesar Rp. 350.000.000 melalui APBD.

Dalam kesempatan ini juga Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional Bapak Yakobus Kumis juga memberikan 5 hal yang tidak boleh punah didalam masyarakat adat Dayak yaitu : 1. Keberadaan masyarakat Adat Dayak, agar bisa bersaing secara kompotitif dan pemuda harus menjadi manusia yang berkualitas unggul; 2. Bagaimana adat istiadat, seni dan budaya adat untuk terus dijunjung tinggi dan bangga menjadi Dayak; 3. Hukum adat untuk terus ada dan terus dijalankan; 4. Tanah dan hak-hak tanah bagi masyarakat adat tidak boleh dihilangkan, tanah yang ada untum terus dikelola dengan baik dan bijak dan 5. Kelembagaan masyarakat hukum adat, untuk saling bersinergi, saling mendukung satu samalain, jangan sampai saling sikut menyikut.

Оставить комментарий